Air Minum Nonmin extra oxygen

Sejarah perkembangan pengolahan air sehat dibangsa kita sudah dimulai sejak zaman kolonial belanda, dipelopori oleh Hendrik Freerk Tillemadi tahun 1901 yang memproduksi air murni kesehatan dengan merk Hygeia sejarah tersebut membuktikan bahwa kesadaran konsumsi air minum sehat sudah ada sejak dulu. Dalam fase awal-awal kemerdekaan bangsa Indonesia ternyata wacana kebutuhan air minum sehat sudah mulai digalakkan dengan didirikannya PDAM ditahun 1959. Di dalam pengelolaan fungsinya sebagai lembaga Negara yang mengurusi kebutuhan air masyarakat PDAM secara serius membuat program-program master plan untuk tata kelola dan teknologi distribusi serta kualitas air yang baik. Namun upaya nasionalisasi tata kelola air tersebut terhambat di tahun 1998 dengan adanya krisis di bangsa Indonesia, sehingga pengelolaan teknologi dan distribusi air yang tadinya dikelola oleh Negara mulai dibagikan kepada pihak swasta. Dampak positif dari “swastanisasi” ini adalah mulai berkembangnya penelitian dan kreatifitas perusahaan swasta dalam mengembangkan produksi air minum sehingga meningkatkan kualitas air minum yang akan dikonsumsi oleh masyarakat.

Perkembangan teknologi kualitas air minum akibat swastanisasi tersebut diantaranya adalah:
1.    Air minum bersih dalam kemasan / Air Mineral
2.    Air minum ber TDS rendah / Air murni
3.    Air minum murni beroxsigen / injeksi
4.    Air minum NONMIN

Pada tahun 1980 terjadi wabah nasional berupa penyakit Diare masal, hal tersebut disebabkan mulai berkembangnya bakteri E Coli hampir di kebanyakan sumber mata air yang ada di masyarakat. Sehingga pemerintah pada saat itu melalui dinas kesehatan mencanangkan gerakan merebus air minum.

Upaya pemerintah dalam pengenalan air minum yang sehat kepada masyarakat tidak hanya terhenti pada kampanye perebusan air saja, namun juga mulai dikenalkan kepada masyarakat saat itu berupa pola pemilihan air yang sehat berupa program pengenalan air dengan system 3T yakni :
1.    Tidak berbau
2.    Tidak berasa
3.    Tidak berwarna

Kemudian seiring berkembangnya teknologi dan pengetahuan bangsa ini tentang air sehat, pola pengenalan air sehat mulai meningkat dari system 3 T berkembang ke sistem demineralisasi, yakni sebuah sistem yang mengukur air layak konsumsi atau tidaknya dengan melihat seberapa banyak kandungan mineral yang terkandung dalam air tersebut. Pembagian kriteria air menurut dinas kesehatan dengan acuan alat pengukur mineral TDS adalah sebagai berikut:
1.    Air dengan TDS diatas 100 ppm ---------------------------------- disebut air tidak layak konsumsi
2.    Air dengan TDS 30-70 ppm ---------------------------------------- disebut air layak minum
3.    Air dengan TDS 10-30 ppm ---------------------------------------- disebut air murni
4.    Air dengan TDS 0 ppm ---------------------------------------------- disebut air organic (NONMIN)
air minum nonmin extra oxygen
nonmin

Mineral merupakan kandungan zat besi yang memiliki sifat larut di dalam air, pada umumnya mineral dalam kehidupan ini berasal dari tanah. Dalam proses perkembangannya mineral yang ada di dalam tanah dibagi menjadi dua yakni mineral organic dan unorganik. Mineral organic adalah mineral tanah yang sudah melalui proses pengolahan secara alami oleh tumbuhan dan hewan, dimana mineral tersebut secara alami diserap oleh tumbuhan melalui fotosintesis yang kemudian dimakan oleh hewan. Mineral yang berasal dari tumbuhan dan hewan adalah mineral organic yang dibutuhkan oleh manusia. Sedangkan mineral tanpa adanya proses pengolahan dan yang masih tertinggal di dalam tanah yang kemudian dibawa oleh arus air sehingga air tersebut mengandung/terkontaminasi oleh zat logam tersebut adalah mineral yang tidak baik untuk tubuh.

Namun dengan teknologi yang dimiliki oleh NONMIN kini mineral yang tertinggal di dalam air sudah dapat dipisahkan dengan cara yang biasa kita sebut sebagai proses Demineralizer sehingga air NONMIN yang masuk ke dalam tubuh adalah air sehat yang terbebas dari zat besi berbahaya.

Keunggulan air minum NONMIN:
1.    TDS 0,0 ppm
2.    PH 7,22
3.    Ion alami / hexagonal
4.    Air Organik
5.    Oksigen terlarut 18.60 ml/L
6.    Air aktif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar